Penelitian
Hubungan Gambaran Diri dengan Interaksi Sosial pada Remaja yang Berjerawat (Acne vulgaris) di SMAN 3 Padang Tahun
2012 - Masa
remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa
dewasa, berlangsung antara usia 12 sampai 24 tahun (WHO, 2010). Berdasarkan
tinjauan teori perkembangan, usia remaja adalah masa saat terjadinya
perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek
fisik, kognitif, emosi, sosial dan pencapaian (Fagan, 2006). Sebagian remaja
mampu mengatasi transisi ini dengan baik, namun beberapa remaja bisa jadi
mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial sehingga
menimbulkan permasalahan bagi remaja. Beberapa permasalahan remaja yang muncul
biasanya banyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja,
salah satunya adalah permasalahan fisik.

Permasalahan akibat perubahan
fisik banyak dirasakan oleh remaja awal ketika mereka mengalami pubertas. Pada
remaja yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja akhir), permasalahan fisik
yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan atau keprihatinan mereka terhadap
keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik ideal yang
diinginkan. Mereka juga sering membandingkan fisiknya dengan fisik orang lain
ataupun idola-idola mereka. Salah satu perubahan fisik yang sering menjadi permasalahan
pada masa remaja adalah jerawat yang disebabkan oleh peningkatan hormon dalam
tubuh selama pubertas yang dapat merangsang kelenjar sebasea menjadi lebih
aktif dan menghasilkan minyak yang berlebihan sehingga terjadi hiperplasia dan
hipertrofi dari glandula sebasea (Nita, 2008).
Jerawat (Acne vulgaris) adalah penyakit kulit yang tidak terlalu serius dan
dapat hilang dengan sendirinya, namun memberikan dampak psikologis yang besar.
Masalah jerawat sering terjadi pada bagian muka, punggung, dan dada. Masalah
ini memberi kesan psikologis yang buruk pada remaja, terutama remaja dalam
rentang usia sekolah. Remaja yang mengalami masalah jerawat sering kali
mempunyai masalah yang berkaitan dengan gambaran diri, kepercayaan diri,
pergaulan sosial, kemurungan, dan kegusaran (Ibrahim, 2006).
Gambaran diri yang merupakan
salah satu komponen konsep diri, yaitu sikap seseorang terhadap tubuhnya secara
sadar dan tidak sadar meliputi persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk,
penampilan, dan potensi tubuh saat ini (Stuart dan Sundeen, 2001). Adanya
jerawat menyebabkan perubahan dalam penampilan yang mengakibatkan seseorang
berespon terhadap perubahan tersebut. Pernyataan ini diperkuat dengan
pernyataan Hurlock (2009) bahwa perubahan fisik sering disertai perubahan
kepribadian yang berpengaruh terutama pada konsep diri.
American Academy of Dermatology
tahun 2011 melaporkan bahwa sebagian besar dari remaja Amerika yang berjerawat
merasa khawatir takut ditolak oleh teman-temannya sehingga berusaha menutupi
jerawatnya dengan berbagai cara seperti menggunakan riasan yang tebal dan
rambut (Ghodsi, 2011). Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa efek
utama yang ditimbulkan oleh jerawat adalah pada psikologis seseorang, seperti
krisis percaya diri atau minder dan depresi (Bungawangi, 2008).
Gambaran diri mempunyai pengaruh
yang cukup besar terhadap perilaku individu, yaitu individu akan bertingkah
laku sesuai dengan gambaran diri yang dimiliki. Individu yang memiliki gambaran
diri yang positif akan mengembangkan perilaku-perilaku yang positif sesuai
dengan caranya memandang diri dan lingkungan, sebaliknya individu yang memiliki
gambaran diri yang negatif akan mengembangkan perilaku-perilaku yang cenderung
negatif sesuai dengan caranya memandang diri dan lingkungannya (Rahmat, 2003).
Pernyataan tersebut didukung oleh Burns (2000) yang menyatakan bahwa gambaran
diri akan mempengaruhi cara individu dalam bertingkah laku di tengah
masyarakat. Dapat dikatakan bahwa gambaran diri mempengaruhi interaksi
seseorang dengan orang lain dalam lingkungan sosialnya.
Gambaran diri yang negatif
terkait dengan masalah jerawat dapat berdampak pada interaksi sosial seseorang.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa jerawat dapat memiliki dampak yang sangat
negatif terhadap interaksi sosial bagi penderitanya. Penderita jerawat
kadang-kadang membenci diri sendiri, menarik diri, dan jauh dari hubungan
interpersonal (Unlenhake, 2010). Sebuah artikel yang diterbitkan di Turki melaporkan
dari 83 penderita jerawat, sebagian besar menunjukkan kecemasan sosial, menarik
diri, dan depresi yang cenderung meningkat serta gambaran diri yang rendah
(Yolac, 2008).
Penelitian ini dilakukan di SMAN
3 Padang karena sebelumnya peneliti telah melakukan studi pendahuluan pada
beberapa Sekolah Menengah Atas yang terbaik di kota Padang, yaitu SMAN 1
Padang, SMAN 2 Padang, SMAN 3 Padang, dan SMAN 10 Padang untuk melihat
prevalensi jerawat yang terbanyak diderita oleh siswanya. Dari hasil studi
pendahuluan didapatkan siswa yang berjerawat di SMAN 1 Padang sebanyak 155
orang, SMAN 2 Padang sebanyak 177 orang, SMAN 3 Padang 262 orang, dan SMAN 10
Padang sebanyak 192 orang.
Dari hasil penyebaran kuesioner
pendahuluan mengenai gambaran diri pada 20 orang siswa yang berjerawat, 12
diantaranya menunjukkan gambaran diri negatif. Ini terlihat dari jawaban
pertanyaan misalnya, “Saya merasa jerawat adalah masalah pada masa remaja”,
sebagian besar siswa yang berjerawat tersebut memilih sangat setuju dan setuju.
Dari hasil wawancara dan observasi terhadap 12 siswa yang memiliki gambaran
diri negatif, mereka merasa kurang percaya diri, malu, kurangnya kontak mata
saat diajak berbicara, berusaha selalu memalingkan muka serta kurang semangat
dalam melakukan aktivitas.
Berdasarkan studi pendahuluan di
atas, penulis tertarik untuk meneliti apakah ada hubungan antara gambaran diri
dengan interaksi sosial pada remaja yang berjerawat (Acne vulgaris) di SMAN 3 Padang tahun 2012.
Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan mengenai hubungan gambaran diri dengan interaksi sosial pada remaja
yang berjerawat (Acne vulgaris) di SMAN
3 Padang tahun 2012, dengan total sampel sebanyak 158 orang, maka dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1. Paling banyak remaja yang
berjerawat memiliki gradasi jerawat sedang.
2. Lebih dari separuh remaja yang
berjerawat memiliki gambaran diri negatif.
3. Paling banyak remaja yang
berjerawat memiliki interaksi sosial yang buruk.
4. Terdapat hubungan yang
bermakna antara gradasi jerawat dengan gambaran diri pada remaja yang
berjerawat.
5. Terdapat hubungan yang
bermakna antara gambaran diri dengan interaksi sosial pada remaja yang
berjerawat.
Penulis:
Deri Anggraini
Fakultas Keperawatan
Universitas Andalas