Laman

Obat Penghilang Jerawat yang Ampuh

Obat Penghilang Jerawat yang Ampuh - Jerawat adalah gangguan pada kulit yang terjadi karena penyumbatan saluran kelenjar sebasea (kelenjar penghasil minyak). Walaupun bukan merupakan gangguan yang serius, tetapi jerawat dapat menimbulkan bekas parut yang mengganggu. Hal ini dapat menyebabkan gangguan psikis dan berpotensi memicu beberapa masalah sepert rasa rendah diri, takut untuk bersosialisasi dan depresi.


Jerawat paling sering terjadi pada remaja, namun dapat juga terjadi pada semua usia. Walaupun penyebab gangguan jerawat belum diketahui dengan pasti, namun timbulnya jerawat seringkali dihubungkan dengan perubahan hormonal yang merangsang kelenjar sebasea di kulit sehingga menghasilkan minyak lebih banyak dan terjadi penyumbatan. Perubahan hormonal biasa terjadi pada masa pubertas, kondisi menstruasi, kehamilan, pemakaian pil KB atau stres.

Berdasarkan tingkat keparahan, jerawat dibagi menjadi jerawat komedo, jerawat papula, jerawat pustula dan jerawat pustulosistik. Jerawat komedo terbagi menjadi dua yaitu komedo terbuka dan komedo tertutup. Komedo terbuka biasanya muncul pada folikel rambut yang ditandai dengan bintik hitam yang disebabkan oksidasi melanin, dan mengandung lemak. Komedo tertutup biasanya muncul pada folikel rambut, bercampur dengan lemak, keratin dan bakteri.

Penanggulangan jerawat tergantung pada tingkat keparahannya. Untuk jerawat komedo dan tidak terjadi peradangan dapat menggunakan kosmetik dan obat yang dijual bebas sebagai langkah awal penanggulangannya. Sedangkan untuk jerawat yang meradang dan tidak membaik setelah diobati dengan obat yang dijual bebas dapat berkonsultasi dengan dokter.

Produk kosmetik yang sering dijumpai untuk mengatasi jerawat diantaranya produk pembersih wajah. Produk pembersih wajah dan obat jerawat tersedia dalam berbagai bentuk sediaan yang berbeda. Kosmetik dan obat yang dijual bebas yang ditujukan untuk mengobat jerawat biasanya tersedia dalam bentuk cairan, gel, loton atau krim. Secara umum bentuk sediaan yang paling efektif adalah dalam bentuk gel karena dapat melekat pada kulit dalam waktu lama. Produk berbentuk cair dan gel biasanya membuat kulit menjadi kering sehingga cocok digunakan untuk kulit berminyak, sedangkan untuk kulit kering disarankan menggunakan bentuk sediaan yang berbentuk krim atau losion karena kedua bentuk sediaan ini kurang menyebabkan iritasi dibandingkan gel dan cairan.

Obat Penghilang Jerawat yang Ampuh
Pengobatan secara topikal merupakan standar dalam penanggulangan jerawat. Beberapa zat berkhasiat yang terkandung dalam obat yang dijual bebas yang dapat digunakan untuk mengatasi jerawat adalah :
1.      Benzoil peroksida
2.      Asam salisilat
3.      Sulfur
4.      Kombinasi sulfur dan resorsinol

Benzoil Peroksida
Benzoil peroksida efektif untuk mengatasi jerawat ringan sampai sedang. Zat ini juga bersifat keratolitik (mengelupaskan lapisan tanduk kulit) karena dapat mengurangi sel kulit mati pada kulit. Selama menggunakan produk yang mengandung Benzoil Peroksida hindari kontak dengan pakaian dan rambut karena dapat menyebabkan pemutihan (bleaching) dan hindari paparan sinar matahari langsung, disarankan menggunakan tabir surya. Pengunaan Benzoil Peroksida pada wanita hamil harus dengan kehati-hatian.

Beberapa efek yang tidak diinginkan dapat muncul setelah penggunaan Benzoil Peroksida diantaranya adalah dapat menyebabkan kulit kemerahan pada awal penggunaan namun akan menghilang setelah penggunaan 1–2 minggu, selain itu dapat menimbulkan reaksi alergi pada beberapa orang tertentu. Apabila terjadi reaksi alergi berupa kemerahan pada kulit saat produk dioleskan maka hentikan penggunaan dan segera konsultasikan ke dokter.

Asam Salisilat
Asam salisilat adalah juga bersifat keratolitik yang sering digunakan pada obat jerawat dengan konsentrasi 0,5% sampai 2%.

Sulfur
Obat jerawat dengan kandungan sulfur 3% sampai 10%, bersifat sebagai keratolitik dan antibakteri sehingga efektif untuk mengatasi komedo. Obat dioleskan pada kulit yang berjerawat 1 - 3 kali sehari sehingga membentuk lapisan tipis. Lapisan tipis ini berwarna kuning dan biasanya membuat pasien kurang nyaman karena baunya. 

Kombinasi Sulfur dan Resorsinol
Kombinasi sulfur 3-8% dan resorsinol 2-3% sering digunakan pada obat jerawat. Produk ini digunakan sebagai keratolitik, dan mempercepat pertumbuhan sel baru.

Demikian artikel Obat Penghilang Jerawat yang Ampuh. Silakan disimak juga artikel mengenai Penyebab Jerawat.

Sumber: Info POM, Januari-Februari 2012

Penelitian Hubungan Gambaran Diri dengan Interaksi Sosial pada Remaja yang Berjerawat (Acne vulgaris) di SMAN 3 Padang Tahun 2012

Penelitian Hubungan Gambaran Diri dengan Interaksi Sosial pada Remaja yang Berjerawat (Acne vulgaris) di SMAN 3 Padang Tahun 2012 - Masa remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, berlangsung antara usia 12 sampai 24 tahun (WHO, 2010). Berdasarkan tinjauan teori perkembangan, usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek fisik, kognitif, emosi, sosial dan pencapaian (Fagan, 2006). Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan baik, namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial sehingga menimbulkan permasalahan bagi remaja. Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanya banyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja, salah satunya adalah permasalahan fisik.



Permasalahan akibat perubahan fisik banyak dirasakan oleh remaja awal ketika mereka mengalami pubertas. Pada remaja yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja akhir), permasalahan fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan atau keprihatinan mereka terhadap keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik ideal yang diinginkan. Mereka juga sering membandingkan fisiknya dengan fisik orang lain ataupun idola-idola mereka. Salah satu perubahan fisik yang sering menjadi permasalahan pada masa remaja adalah jerawat yang disebabkan oleh peningkatan hormon dalam tubuh selama pubertas yang dapat merangsang kelenjar sebasea menjadi lebih aktif dan menghasilkan minyak yang berlebihan sehingga terjadi hiperplasia dan hipertrofi dari glandula sebasea (Nita, 2008).

Jerawat (Acne vulgaris) adalah penyakit kulit yang tidak terlalu serius dan dapat hilang dengan sendirinya, namun memberikan dampak psikologis yang besar. Masalah jerawat sering terjadi pada bagian muka, punggung, dan dada. Masalah ini memberi kesan psikologis yang buruk pada remaja, terutama remaja dalam rentang usia sekolah. Remaja yang mengalami masalah jerawat sering kali mempunyai masalah yang berkaitan dengan gambaran diri, kepercayaan diri, pergaulan sosial, kemurungan, dan kegusaran (Ibrahim, 2006).

Gambaran diri yang merupakan salah satu komponen konsep diri, yaitu sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar meliputi persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, penampilan, dan potensi tubuh saat ini (Stuart dan Sundeen, 2001). Adanya jerawat menyebabkan perubahan dalam penampilan yang mengakibatkan seseorang berespon terhadap perubahan tersebut. Pernyataan ini diperkuat dengan pernyataan Hurlock (2009) bahwa perubahan fisik sering disertai perubahan kepribadian yang berpengaruh terutama pada konsep diri.

American Academy of Dermatology tahun 2011 melaporkan bahwa sebagian besar dari remaja Amerika yang berjerawat merasa khawatir takut ditolak oleh teman-temannya sehingga berusaha menutupi jerawatnya dengan berbagai cara seperti menggunakan riasan yang tebal dan rambut (Ghodsi, 2011). Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa efek utama yang ditimbulkan oleh jerawat adalah pada psikologis seseorang, seperti krisis percaya diri atau minder dan depresi (Bungawangi, 2008).

Gambaran diri mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap perilaku individu, yaitu individu akan bertingkah laku sesuai dengan gambaran diri yang dimiliki. Individu yang memiliki gambaran diri yang positif akan mengembangkan perilaku-perilaku yang positif sesuai dengan caranya memandang diri dan lingkungan, sebaliknya individu yang memiliki gambaran diri yang negatif akan mengembangkan perilaku-perilaku yang cenderung negatif sesuai dengan caranya memandang diri dan lingkungannya (Rahmat, 2003). Pernyataan tersebut didukung oleh Burns (2000) yang menyatakan bahwa gambaran diri akan mempengaruhi cara individu dalam bertingkah laku di tengah masyarakat. Dapat dikatakan bahwa gambaran diri mempengaruhi interaksi seseorang dengan orang lain dalam lingkungan sosialnya.

Gambaran diri yang negatif terkait dengan masalah jerawat dapat berdampak pada interaksi sosial seseorang. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa jerawat dapat memiliki dampak yang sangat negatif terhadap interaksi sosial bagi penderitanya. Penderita jerawat kadang-kadang membenci diri sendiri, menarik diri, dan jauh dari hubungan interpersonal (Unlenhake, 2010). Sebuah artikel yang diterbitkan di Turki melaporkan dari 83 penderita jerawat, sebagian besar menunjukkan kecemasan sosial, menarik diri, dan depresi yang cenderung meningkat serta gambaran diri yang rendah (Yolac, 2008).

Penelitian ini dilakukan di SMAN 3 Padang karena sebelumnya peneliti telah melakukan studi pendahuluan pada beberapa Sekolah Menengah Atas yang terbaik di kota Padang, yaitu SMAN 1 Padang, SMAN 2 Padang, SMAN 3 Padang, dan SMAN 10 Padang untuk melihat prevalensi jerawat yang terbanyak diderita oleh siswanya. Dari hasil studi pendahuluan didapatkan siswa yang berjerawat di SMAN 1 Padang sebanyak 155 orang, SMAN 2 Padang sebanyak 177 orang, SMAN 3 Padang 262 orang, dan SMAN 10 Padang sebanyak 192 orang.

Dari hasil penyebaran kuesioner pendahuluan mengenai gambaran diri pada 20 orang siswa yang berjerawat, 12 diantaranya menunjukkan gambaran diri negatif. Ini terlihat dari jawaban pertanyaan misalnya, “Saya merasa jerawat adalah masalah pada masa remaja”, sebagian besar siswa yang berjerawat tersebut memilih sangat setuju dan setuju. Dari hasil wawancara dan observasi terhadap 12 siswa yang memiliki gambaran diri negatif, mereka merasa kurang percaya diri, malu, kurangnya kontak mata saat diajak berbicara, berusaha selalu memalingkan muka serta kurang semangat dalam melakukan aktivitas.

Berdasarkan studi pendahuluan di atas, penulis tertarik untuk meneliti apakah ada hubungan antara gambaran diri dengan interaksi sosial pada remaja yang berjerawat (Acne vulgaris) di SMAN 3 Padang tahun 2012.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai hubungan gambaran diri dengan interaksi sosial pada remaja yang berjerawat (Acne vulgaris) di SMAN 3 Padang tahun 2012, dengan total sampel sebanyak 158 orang, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Paling banyak remaja yang berjerawat memiliki gradasi jerawat sedang.
2. Lebih dari separuh remaja yang berjerawat memiliki gambaran diri negatif.
3. Paling banyak remaja yang berjerawat memiliki interaksi sosial yang buruk.
4. Terdapat hubungan yang bermakna antara gradasi jerawat dengan gambaran diri pada remaja yang berjerawat.
5. Terdapat hubungan yang bermakna antara gambaran diri dengan interaksi sosial pada remaja yang berjerawat.


Penulis:
Deri Anggraini
Fakultas Keperawatan
Universitas Andalas

Formulasi Krim Serbuk Getah Buah Pepaya (Carica papaya L) sebagai Anti Jerawat

Formulasi Krim Serbuk Getah Buah Pepaya (Carica papaya L) sebagai Anti Jerawat - Konsep  back to nature  atau kembali ke alam merupakan bentuk pengobatan menggunakan bahan alam yang semakin sering kita dengar beberapa tahun belakangan. Penggunaan bahan alam lebih disukai karena diyakini mempunyai efek samping yang lebih kecil dibandingkan pengobatan modern yang menggunakan bahan sintetis (Mursito, 2001).


Penggunaan tumbuhan sebagai obat telah lama dikenal secara luas oleh masyarakat Indonesia yang disebut sebagai obat tradisional. Pengobatan dengan menggunakan obat tradisional dewasa ini sangat popular dan semakin disukai oleh masyarakat. Hal ini disebab karena disamping harganya murah, mudah didapat juga mempunyai efek samping yang relatif sedikit (Wijaya, 1995; Andi, 2000).

Di antara tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat jerawat adalah buah papaya (Carica papaya  L.). Buah ini  sangat dikenal oleh hampir seluruh penduduk di belahan bumi, karena semua bagian tanamannya dapat dimanfaatkan mulai dari akar, batang, daun, bunga, buah dan juga getahnya.  Getah papaya mengandung papain, chymopapain A, chymopapain B, protease, papain peptidase A dan damar. Keterangan yang didapat dari masyarakat dan beberapa buku obat tradisional, getah buah tumbuhan ini dapat digunakan dalam bidang kosmetik untuk mengobati jerawat, luka bakar, ketombe, jamur dan kutil. Kadar getah buah papaya yang digunakan untuk kosmetik adalah 3 % (Baga, 1996; Muhidin, 2004).

Untuk pemakaian pada kulit, papain dapat dibuat sediaanya berupa krim.  Tipe krim yang dibuat untuk papain ini adalah tipe minyak  dalam air (M/A). Berdasarkan hal tersebut dicoba memformulasikan krim getah buah pepaya untuk pengobatan jerawat dalam bentuk krim tipe minyak dalam air. Tipe krim minyak dalam air ini mengandung kadar air yang lebih tinggi sehingga bila dioleskan pada kulit air tersebut akan menguap dan memberikan rasa dingin pada kulit. 

Hasil pengamatan  selama satu bulan menyimpulkan bahwa ada perubahan pada jerawat, yaitu  jerawat semakin lama semakin mengecil/mengempes. Hal ini berarti krim getah buah pepaya mempunyai efek untuk menyembuhkan jerawat. Untuk penyembuhan total pada panelis belum sampai terjadi karena kemungkinan karena waktu uji efektifitas yang dibutuhkan panelis kurang serta kurang tingginya konsentrasi serbuk getah buah pepaya. Selain itu ketidak patuhan panelis pada pemakaian krim  juga turut menentukan efek penyembuhan.      


Penulis:
Deni Anggraini, Masril Malik, dan Maria Susiladewi
Fakultas Farmasi Universitas Andalas
Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau